Wall Street Anjlok, Terseret Kejatuhan Harga Minyak Mentah Amerika

ilustrasi

NEW YORK-Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB) setelah minyak mentah berjangka AS berubah negatif untuk pertama kalinya dalam sejarah, dengan para pedagang dipaksa membayar untuk membongkar minyak mentah ketika kontrak Mei berakhir selama kemerosotan ekonomi global yang diakibatkan wabah Virus Corona.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 592,05 poin atau 2,44 persen menjadi ditutup pada 23.650,44 poin. Indeks S&P 500 jatuh 51,40 poin atau 1,79 persen, menjadi berakhir di 2.823,16 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 89,41 poin atau 1,03 persen, menjadi ditutup di 8.560,73 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir lebih rendah, dengan utilitas dan real estate masing-masing jatuh 3,89 persen dan 3,74 persen, dua kelompok berkinerja terburuk.

Baca :  HMS Center: Dampak Covid-19 Sistemik, Data Penerima Bansos Harus Valid

Sektor energi juga berada di bawah tekanan, ditutup turun 3,29 persen, setelah kontrak bulan depan minyak West Texas Intermediate (WTI) AS benar-benar berubah menjadi negatif, dengan penjual yang menawarkan 37,63 dolar AS per barel kepada setiap pedagang yang mau menerimanya.

Dengan miliaran orang tinggal di rumah di seluruh dunia karena Virus Corona, permintaan fisik untuk minyak mentah telah mengering.

“Apa yang dikatakan pasar energi kepada Anda adalah bahwa permintaan tidak akan kembali dalam waktu dekat dan ada kelebihan pasokan,” kata Kepala Strategi Pendapatan Tetap WisdomTree Asset Management, Kevin Flanagan di New York seperti dikutip ANTARA, Selasa (21/4).

Dia mengatakan harga minyak yang lebih rendah dapat mendorong ekonomi jika mendorong orang untuk membeli lebih banyak bahan bakar, “tetapi itu mengharuskan orang keluar.”

Baca :  Pemerintah Jamin Harga Bapok Terkendali Selama Masa Tanggap Darurat COVID-19

Tahun ini, indeks energi telah kehilangan 45 persen, sejauh ini merupakan yang terburuk di antara 11 sektor.

Melewati aksi jual pasar luas, Amazon naik 0,8 persen dan Netflix melonjak 3,4 persen. Perusahaan-perusahaan itu mendapat manfaat dari permintaan tambahan karena jutaan orang tinggal di rumah akibat karantina Virus Corona. Netflix melaporkan hasil kuartalannya pada Selasa setelah bel.

Dibantu oleh paket pemerintah AS senilai dua triliun dolar AS untuk merangsang ekonomi, dan dengan taruhan bahwa virus itu mendekati puncaknya di Amerika Serikat, S&P 500 telah naik lebih dari 25 persen dari level terendahnya pada Maret.

Namun, indeks acuan tetap hampir 17 persen di bawah rekor tertinggi Februari, dan analis telah memperingatkan kemerosotan ekonomi yang dalam dari penghentian aktivitas bisnis dan jutaan PHK.

Baca :  Inflasi IHK Maret 2020 Tercatat 0,10%

Klaim pengangguran AS menyentuh 22 juta dalam empat minggu hingga 11 April, dan analis memperkirakan sebanyak lima juta lebih dalam minggu terakhir. Angka survei manufaktur AS April, juga akan dirilis pada Kamis (23/4/2020), diperkirakan akan meluncur ke level era resesi.

Selama sesi Senin (20/4/2020) volume transaksi di bursa AS mencapai 12,3 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 13,4 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.