Lebaran Raya Islam dan Ulah Teroris

Lebaran Raya Islam dan Ulah Teroris

0
BERBAGI
Wakil Ketua Banggar DPR dari F PDI Perjuangan, Said Abdullah

Oleh: MH Said Abdullah

Semua agama mengajarkan kedamaian. Sebab damai merupakan kebutuhan dasariah. Maka siapapun orangnya, apapun agama, suku dan rasnya, damai merupakan hal yang niscaya di sana.

Tetapi mengapa ketidakdamaian terjadi, di sinilah persoalannya.
Terjadinya bom di hari terakhir umat Islam menjalankan ibadah puasa di Mapolresta Surakarta (5/7) lalu, merupakan salah satu bentuk ketidakdamaian yang lahir dari cara pandang oknum tertentu. Meski pelaku bom bunuh diri serupa teroris itu ditengarai melafalkan kalimat syahadat sesaat sebelum meledakkan bom, tidak serta merta ia merasa damai di sisi Tuhan.

Ia patut diduga keliru memandang Tuhan sebagaimana ia juga pantas ditengara salah mempersepsikan selain Tuhan, termasuk dirinya dan substansi perjuangan puasa itu sendiri.

Puasa sejatinya tidak hanya menahan diri dari lapar dan haus, tetapi puasa juga mencegah diri dalam berprilaku destruktif kepada diri dan siapapun. Oleh karena itu, pengebom di manapun sesungguhnya merupakan representasi dari ketidaksanggupan diri dalam konteks mencegah dan menahan dari tindakan yang merugikan bahkan mencelakakan orang lain, apapun alasannya. Tetapi, manusia memiliki pikiran yang berbeda dengan bingkai spektrum yang tentu saja tidak sama di masing-masing garis tepinya.

Pada saat umat Islam hendak merayakan hari kemenangan (lebaran), di situlah terjadi katarsis-terorisme, dimana seluruh raga berdoa supaya diberi ampunan dan jeda untuk kembali berpuasa di masa-masa yang akan datang. Namun sebuah sudut inversif terjadi ketika seseorang membunuh dirinya sendiri dan bermaksud mencederai orang lain. Dari perspektif psikologi agama, pastilah pelaku bom bunuh diri itu sebentuk pribadi yang tanggung memaknai agama, Tuhan, dan dirinya.

Oleh sebab itu, teroris adalah serumpun skizofrenia yang mengalami gangguan berat pada otak yang menafsir realitas dengan abnormal, tidak seperti orang pada umumnya, halusinatif dan paranoid. Ia juga sebentuk penyakit yang harus disembuhkan antara lain dengan cara melawannya bila tidak bersedia diobati, karena species ini menular dan sulit disembuhkan.

Bila terorisme ini sebentuk kejahatan, sesungguhnya ia tidak bisa dibasmi tuntas sampai ke akar-akarnya. Sebab, kejahatan lahir sebagaimana halnya kebaikan. Keduanya ada sepanjang umur manusia. Namun, manusia lain yang tidak sedang dalam kondisi paranoid yang asik berhalusinasi, berkewajiban untuk mendidik teroris, setidak-tidaknya bersatu untuk membuatnya mengerti dengan cara melawan. Sebab tentang terorisme ini, nenek bilang, “Itu berbahaya!”

Di ujung ramadan dan di awal kemenangan yang ditandai dengan Lebaran Raya (Idul Fitri) ini, situasi damai tercemari oleh aksi individu atau yang mewakili kelompok penganut anarkisme baik di Solo maupun di Arab. Satu cedera di Surakarta, lima orang lainnya meninggal di Arab dan dua terluka pada bom yang meledak di tiga tempat (Madinah, Qatif dan Jeddah).

Boleh jadi, meski berselang satu hari, tanggal 4 Juli 2016 di Arab dan 5 Juli 2016 di Surakarta, dua kejadian ini dilakukan oleh kelompok yang sealiran atau sama sekali tidak sehaluan. Tetapi bentuknya, pasti sama, terorisme. Lalu, apa cita-cita kelompok terorisme ini, diantara kita hanya menduga-duga yang bisa saja rasional atau sama sekali irasional, yang dua-duanya belum tentu benar sebagai alasan mengapa harus mengebom. Ketidakbenaran ini bukan hanya pada konteks prilaku yang merusak, tetapi teroris berusaha sekuat tenaga untuk menandingi Tuhan. Sebab, Tuhan mencintai kedamaian. Bila ada makhluk yang membenci kedamaian, sesungguhnya ia sedang melawan Tuhan.

Say No to Terorrism

Terorisme merupakan tindakan kriminal, musuh yang menyerang kedaulatan negara dan keamanan masyarakat. Seluruh komponen bangsa harus terpanggil dalam upaya pencegahan terorisme. Ia merupakan musuh semua agama karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan kekerasan dan kebrutalan. Terorisme, tidak ada kaitannya dengan agama tertentu. Begitu pula, terorisme musuh semua negara yang ingin mendambakan perdamaian dan ketertiban global.

Bila diamati, aksi terorisme merupakan akibat dari rasa ketidakpuasan, kekecewaan,  dan keputusasaan kelompok tertentu di berbagai persoalan. Bisa jadi, teroris kecewa terhadap kondisi atau persoalan politik, hukum, ekonomi, dan sosial. Lalu ia berulah supaya mendapatkan perhatian.

Ia ibarat anak kecil yang tidak perlu berpikir akibat yang akan muncul. Serupa anak kecil, ia melempar kaca supaya kehendaknya dikabulkan orangtua atau keluarganya. Tetapi, teroris tidak sama persis dengan anak kecil karena mereka makhluk dewasa yang keliru dalam berkeyakinan terhadap yang dianggapnya benar dari perspektif ia berdiri.

Selain itu, teror ini sesungguhnya bukanlah kejahatan yang berdiri sendiri. Ia bersifat interaksionisme dan dapat dikelompokkan ke dalam kejahatan balas dendam (hate crimes). Namun demikian, bentuk aksi balas dendam kayaknya nggak gitu juga keles. Sebab republik ini tidak antidialog dimana perbedaan cara pandang tidak serta merta harus diselesaikan dengan model Barbarian. Sebab, semua agama selalu memulai perundingan atau bertemu dengan perdamaian. Di sinilah perlu kesepahaman untuk mengatakan tidak pada terorisme.

Ada hal yang dilupakan kelompok terorisme ini bahwa teror sebenarnya bukan merupakan tindakan yang seksi lagi. Bila diperhatikan, saat terjadi teror di Thamrin pertengahan Januari lalu, sejumlah publik melawan dengan mengatakan “Kami tidak takut teror.” Dari risalah ini, teroris perlu melakukan revolusi mental dengan membuat aksi yang lebih populis-inovtaif supaya mendapatkan perhatian publik. Bom bunuh diri, meledakkan fasum (fasilitas umum) maupun tempat vital dengan atau tanpa korban, ia adalah masa lalu. Dus, teroris pada akhirnya menjadi common enemy dan teralienasi.

Tentang keterasingan ini, Karl Marx muda telah mengekspresikan dalam tulisan-tulisannya, terutama dalam Manuskrip (1844) yang merujuk ke pemisahan hal-hal yang secara alamiah milik bersama, atau membangun antagonisme di antara hal-hal yang sudah berada dalam keselarasan. Ini mengacu ke alienasi sosial seseorang dari aspek-aspek hakikat kemanusiaannya (species-essence). Teroris lupa (belajar) bahwa alienasi atas dirinya (dari keselarasan itu) merupakan embrio-sistematik dari kapitalisme yang pada akhirnya menjadikan dirinya sebagai pekerja yang tak pernah menjadi otonom.

Karena itu, teroris pada akhirnya teralienasi dari alam, dari aktivitasnya sendiri, teralienasi dari species-being (dari dirinya sebagai anggota dari human-species) dan terasing dari manusia lain. Ini sebabnya, alienasi merupakan proses di mana manusia menjadi asing terhadap dunia tempat mereka hidup.

Sebagai sebuah isme, terorisme muncul menjadi gagasan dan tindakan yang menghendaki disharmoni terhadap manusia untuk hidup dalam damai lantaran ada semacam perpecahan atau keterputusan yang membuat dirinya merasa seperti orang asing di dunianya sendiri. Di saat umat hendak berharmoni dengan keadaan dalam damai lebaran, teroris melakukan “budaya tanding” dengan cara menebar angin. Ini terjadi karena teroris tidak berkelindan dengan alam melainkan terpuruk pada antiklimaks kenyataan.

Barangkali, suatu ketika akan hadir masa dimana para alien akan teratasi dan kemanusiaannya kembali hidup dalam harmoni dengan dirinya sendiri dan dengan alam. Tetapi, dalam konteks menyamakan persepsi untuk mendidik (melawan) terorisme, semua perlu bersatu untuk melawan terorisme dan kebersatuan itu, pada akhirnya menjadi kuat. Hari ini, berdoa saja tidak cukup terutama pada posisi Tuhan yang tidak terlalu teknis dalam ramadan maupun lebaran sekalipun. (*)

Penulis adalah Wakil Ketua Banggar DPR dari F-PDI Perjuangan